Sumber xanton
Daging buah yang kita makan hanya sekitar 25 persen dari volume buah. Sisanya kulit ungu tebal yang kaya polifenol bernama xanton, seperti alfa-mangostin dan gamma-mangostin.[4]
Kopi dan
ekstrak
manggis
From lecture halls to your next favorite drink. One risk, one bottle, one step closer.
Comang dirintis oleh mahasiswa di Yogyakarta yang menjalankan usaha sambil tetap kuliah. Tidak ada tim besar dan tidak ada dapur produksi. Yang ada hanya satu resep yang dikerjakan berulang sampai rasanya pas.
Produknya kopi seduh tubruk dari house blend robusta dan arabika, dipadukan dengan ekstrak manggis dan susu, lalu dikemas dalam botol 250 ml. Robusta memberi body dan pahit yang tegas, arabika memberi aroma dan asam yang halus, lalu ekstrak manggis menambahkan sisi segar yang jarang ditemukan di kopi susu.
Setiap resep dihitung harga pokoknya, dari bahan sampai gas dan kemasan, supaya harga jual masuk akal bagi pembeli dan usahanya bisa terus berjalan. Ini masih tahap awal. Penjualan dimulai lewat pre-order, jadi produksi menyesuaikan pesanan yang masuk.
Menggabungkan kopi dan manggis bukan ide yang muncul dari nol. Beberapa peneliti dan pelaku usaha di Indonesia sudah lebih dulu mencobanya dalam bentuk lain. Comang belajar dari situ, lalu mengambil arah yang berbeda.
Sebuah penelitian di Fakultas Pertanian menguji beberapa rasio ekstrak kopi arabika dan ekstrak kulit manggis untuk membuat minuman kopi serbuk instan.[1]
Kopi manggis sudah dijual sebagai produk lokal di Karangmoncol, lewat kafe dan kemasan bubuk untuk oleh-oleh.[2]
Program pengabdian masyarakat melatih UMKM desa mengolah kulit manggis menjadi kopi.[3]
Kopi susu seduh tubruk dari house blend robusta dan arabika, ditambah ekstrak manggis, dikemas dalam botol siap minum 250 ml. Inovasinya ada di racikan, format botol, dan cara bercerita yang dekat dengan anak muda.
Jadi Comang tidak mengklaim yang pertama di dunia. Ini inovasi pertama kami sendiri: mengubah kombinasi yang sudah dikenal menjadi minuman kekinian yang praktis dibawa ke kampus.
Yang diteliti para ilmuwan bukan cuma daging buahnya. Bagian yang paling banyak dipelajari justru kulit ungunya.
Daging buah yang kita makan hanya sekitar 25 persen dari volume buah. Sisanya kulit ungu tebal yang kaya polifenol bernama xanton, seperti alfa-mangostin dan gamma-mangostin.[4]
Uji laboratorium terhadap ekstrak kulit manggis dari Tasikmalaya menunjukkan aktivitas antioksidan yang sangat kuat pada semua pelarut yang diuji.[5]
Pada sel makrofag di laboratorium, ekstrak kulit dan daun manggis menekan produksi nitric oxide dan spesies oksigen reaktif yang terkait peradangan.[4] Tinjauan sistematis juga menghimpun bukti potensi antiinflamasinya.[6]
Kulit buah, kulit batang, dan daun manggis sudah lama menjadi ramuan tradisional di Asia Tenggara, misalnya untuk gangguan pencernaan, infeksi kulit, dan luka.[7]
Hampir semua bukti di atas berasal dari uji laboratorium pada sel atau hewan, memakai ekstrak murni, bukan minuman jadi. Data tentang seberapa banyak xanton diserap tubuh juga sebagian besar berasal dari studi pada hewan pengerat.[8] Tinjauan terbaru tahun 2026 menyebut riset yang lebih terstandar masih dibutuhkan sebelum manggis bisa dipastikan berperan sebagai bahan pangan fungsional.[7]
Comang adalah minuman, bukan obat. Halaman ini tidak mengklaim khasiat atau kadar xanton tertentu di setiap botol.
Ini wujudnya: botol 250 ml yang cukup muat di tas kuliah. Logo CO di labelnya sengaja dibuat terlihat seperti punya mata dan senyum, biar botolnya punya muka sendiri.
Gambar ini ilustrasi konsep. Nanti bisa diganti foto botol asli.
Semua dikerjakan manual dalam skala kecil. Takaran dicatat di setiap tahap supaya rasa tetap sama dari satu batch ke batch berikutnya.
Bubuk robusta dan arabika diseduh langsung dengan air panas, ala tubruk. Cara ini menjaga body kopi tetap tebal walau nanti bertemu susu.
Ekstrak disiapkan terpisah supaya takarannya bisa diatur dan rasanya konsisten.
Kopi, ekstrak, dan susu dicampur dengan takaran yang sudah dicatat dalam resep.
Dikemas dalam botol 250 ml, didinginkan, lalu diambil sesuai jadwal pre-order.
Masing-masing punya peran, dan tidak ada yang dibiarkan menutupi yang lain.
Memberi body yang tebal dan pahit yang tegas.
Memberi aroma dan asam yang halus.
Memberi sisi segar yang menyeimbangkan.
Inisial dari Comang. Sederhana, langsung terbaca, dan mudah diingat sejak pertama kali dilihat.
Garis ganda seperti riak di permukaan kopi tubruk yang baru diseduh, saat bubuk perlahan turun ke dasar gelas. Sabar menunggu, hasilnya lebih pekat.
Garis di tengah menyatukan C dan O, seperti kopi dan manggis yang bertemu dalam satu botol.
Kiri dan kanan punya bobot yang sama. Itu yang dikejar di rasanya juga, tidak ada satu bahan yang mendominasi.
Comang masih di tahap awal. Kalau kamu dari komunitas UMKM, sesama mahasiswa yang merintis usaha, atau punya saran untuk produk dan brand ini, kabari lewat Instagram.